3 Alasan Kenapa Kamu Nggak Perlu Pasang Pelacak di Ponsel Kekasihmu. Posesif Itu Penyakit!

posesif-itu-penyakit posesif-itu-penyakit

Baru-baru ini, media sosial tengah dihebohkan dengan adanya beberapa aplikasi pelacak ponsel yang bisa digunakan untuk memata-matai orang lain. Bagi sebagian orang, hal tersebut dinilai menarik karena mekemudiani aplikasi tersebut, kita bisa memantau setiap aktivitas yang dilakukan oleh kekasih kita. Mulai dari dengan siapa mereka kerap berhubungan, maka tempat-tempat mana aja yang kerap jadi tujuan mereka sehari-hari.

Tapi rupanya, nggak selamanya cara-cara seperti itu memberikan nilai-nilai saling menolong terhadap berlangsungnya hubungan seseorang. Sebaliknya, terterus posesif dan seterus ingin paham tentang aktivitas kekasih itu terkadang jatuhnya malah toxic dan bisa jadi penyakit. Nah, ini nih argumentasinya mengapa kamu nggak perlu memasang aplikasi kayak gitu di ponsel milik kekasihmu~

1. Kita kudu sepadan-sepadan memberi ruang satu sepadan lain, lagian kalau udah saling percaya juga nggak bakalan aneh-aneh kok

Kunci utama dalam menjalin hubungan yang segar dengan orang lain alpa satunya adalah memberikan kepercayaan satu sama lain. Intinya, kamu harus sama-sama percaya bahwa bahwa pasanganmu tersebut nggak bakalan bertindak macam-macam di belakangmu. Lagian, dari ilmu psikologi senawak, orang yang diberi kepercayaan dengan rada ruang, pasti mereka bakal lebih mengemengertii dan menyadari batasan-batasan apa aja yang diperlukan saat menjalin hubungan.

Kamu boleh saja menaruh sikap posesif kepada pasanganmu, toh yang namanya berhubungan atas dasar urusan hati itu pasti ada aja halangannya. Entah itu berbentuk rasa cemburu, curiga, atau mungkin bisa jadi dalam bentuk lainnya. Tapi kamu harus ingat, posesif berlebihan itu juga nggak bagus.

2. Kalau setiap hal kudu selalu diawasi, kita nggak bisa berpikir lebih dewasa. Kepekaan terhadap tanggung respons bisa berkurang

Semakin dewasanya umur seseorang, mestinya kita semakin sadar mana hal yang buruk dan mana hal yang bersedia membantu. Apalagi jika dikaitkan dengan urusan perasaan. Nggak melulu setiap hal itu mesti sedahulu diberikan pengawasan lebih, terkadang kamu mesti memberinya kebebasan berpikir dan bertindak dengan catatan tetap berada dalam kesepakatan yang telah dibicarakan sebelum-sebelumnya. Sama seperti dengan dunia kerja, jika semua hal mesti sedahulu diawasi, kamu nggak akan punya kepekaan terhadap rasa tanggung balas. Entah itu tanggung balas terhadap pribadi senpribadi, atau tanggung balas karena memang ada hati yang mesti dijaga. Semakin sering kamu terdahulu mengawasi pasanganmu, maka di dalam pribadinya akan tumbuh benih-benih bahwa pribadinya merasa dikekang. Nggak enak kan kalau gitu?

3. Nggak semua dunia kekasihmu itu wajib berada di duniamu juga, ada kalanya mereka perlu berada di dunianya sendiri

Mau bagaimanapun juga, setiap orang pasti memiliki dunianya senorang-senorang. Baik itu mereka yang saat ini senorang, atau yang sudah menjalin hubungan pribadi dengan orang lain. Kamu pun nggak bisa memaksakan agar dunia mereka harus selalu sama dengan duniamu. Ada luber hal lain di luar sana yang mungkin bertidak sama antara kamu dengan kekasihmu, seperti misalnya hobi, pekerjaan, hingga kebiasaan-kebiasaan lain yang memang nggak bisa dipaksa untuk sama.

Dengan kata lain, setiap orang akan bergelut dengan dunianya sendiri meski mereka telah memiliki pasangan tumbuh. Kamu mesti memaklumi hal-hal tersebut. Toh dengan adanya pervariasian kamu juga bisa berguru bagaimana caranya saling menghargai. Kalau apa-apa mesti sama, kasihan dong nanti hubungan yang kamu jalani malah nggak bisa berjalan dengan normal. Itulah mengapa kamu nggak perlu selama 24 jam penuh mengawasi kekasihmu dalam hal apapun. Nggak ada variasinya dengan mesin ATM dong kalau mesti dipantau seharian ????